Sejarah Nata de Coco

Nata de coco siap kirim call 0821 222 00 320

Asal-usul Bahasa

Saat mendengar “nata de coco” kita langsung berpikir bahwa kata ini merupakan bahasa asing. Struktur bahasa Latin begitu lekat dalam pembentukan kata nata de coco. Ya, pasalnya kata itu berasal dari bahasa Spanyol; negara yang bahasa ibunya adalah bahasa Latin.

Secara etimologi atau asal usul bahasa, kata “nata” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti krim. Kata ini diterjemahkan dari bahasa Latin yakni “natare” yang berarti terapung-apung, sementara “coco” artinya buah kelapa. Lengkapnya, “nata de coco” memiliki arti krim dari buah kelapa.

sejarah-httpwww-greeners-co

(Sejarah) ; sumber : httpwww.greeners.co

Walaupun berasal dari bahasa Latin, nata de coco justru pertama kali muncul di Filipina. Ya, Filipina adalah koloni Spanyol. Negara Eropa itu memiliki pengaruh di Filipina, termasuk sampai urusan bahasa sekalipun. Maka, tak heran kalau bahasa Spanyol begitu familier di Filipina. Dampaknya, di Filipina olahan ini akrab disebut nata de coco. Di Indonesia, nata de coco sering disebut sari air kelapa.

Masuk ke Indonesia

Sekira tahun 1973 sampai 1975, pengolahan nata mulai coba dibuat di Indonesia. Namun, makanan olahan ini baru bisa dipasarkan tahun 1981-an. Mulanya, pembuatan nata diawali di tingkat industri rumahan (home industry) menggunakan nanas sebagai bahan bakunya. Produknya sering disebut nata de pina.

Akan tetapi, ketersediaan nanas yang tidak selalu ada sepanjang tahun menjadi kendala, mengingat nanas merupakan buah musiman. Imbasnya, produksi nata de pina pun menemui masalah; tak mampu kontinu sepanjang tahun.

Pasra pengusaha rumahan itu tidak hilang akal. Mereka mencari bahan baku lain yang gampang diperoleh, persediaannya tak mengenal musim, dan tentunya harganya terjangkau.

Saat itu, industri olahan kelapa seperti pembuatan kopra dan minyak goreng juga berkembang pesat. Hanya buahnya yang diambil, sedangkan bagian dari buah kelapa lainnya seperti sabut, batok, dan airnya tidak maksimal diolah.

Air kelapa yang merupakan limbah dari industri pembuatan minyak goreng saat itu coba dimanfaatkan oleh perajin rumahan nata menjadi bahan baku. Alhasil, mereka mampu memaksimalkannya sekaligus menghasilkan produk yang bertahan sampai sekarang. Nata dari air kelapa inilah yang kemudian dikenal dengan nama nata de coco.